Allah swt. berfirman di dalam Al Qur'an surat al muzammil ayat 4:
"Dan bacalah al QUr'an dengan tartil."
maksud ayat ini ialah agar kita membaca al Qur'an dengan berlahan-lahan sehingga membantu pemahaman dan perenungan terhadap Al Qur'an. Demikianlah cara Nabi saw. Membaca al Qur'an. Sebagaimana di jelaskan 'Aisyah r.a. bahwa rosulullah saw. membaca al Qur'an dengan tartil sehingga bacaan yang seharusnya di baca panjang memang di baca panjang.
Ayat-ayat llain yang senada dengan maksud ayat diatas adalah surat al isro' ayat 106:
"Dan al Qur'an telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia.
Surat al Qiyamah ayat 16 s/d 18 :
Janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk (membaca) al Qur'an karena hendak cepat-cepat (mengguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah menggumpulkannya di (dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
Anas bin Malik r.a. ketika di tanya mengenai cara nabi saw. membaca al Qur'an, menjawab:
"Nabi saw. membaca Al Qur'an dengan Madd. Kemudian (Anas bin Malik r.a. mencontohkan dengan) membaca bismillahirrohmanirrohim. seraya memanjangkan ismillah, memanjangkan ar-arrohman, dan memanjangkan ar rohim..
Jika demikian cara nabi Muhammad saw. membaca Al Qur'an, maka selanjutnya muncul pertanyaan: bagaimanakah car kita mengetahui bahwa suatu lafad mesti dibaca panjang?
Surah al Muzammil ayat 4 secara langsung memrintahkan kaum muslimin untuk membaca al Qur'an dengan tartil. Itu artinya, sec ara tidak langsung kita pun di tuntut untuk mempelajari ilmu tentang tata cara membaca al Qur'an dengan tartil. Ilmu yang di maksud tidak lain adalah Tajwid
Tajwid secara bahasa berasal dari kata jawwada, yujaawwidu, tajwidan yang artinya membaguskan atau membuat jadi bagus. Dalam pengertian lain menurut luggoh, tajwid dapat pula di artikan sebagai "segala sesuatu yang mendatangkan kebajikan"
Sedangkan pengertian tajwid menurut istilah adala:
Ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf, baik hak-hak huruf (haqqul harf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf (mustahaqqul harf) di penuihi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-hukum madd, dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah tarqiq, tafkhim, dan yang semisalnya.
Dalam sebuah nadzom dijelaskan bawha Ilmu tajwid adalah:
"Ilmu yang memberikan perngertian tentang hak-hak huruf dari sifat huruf dan mustahaqqu harf.
Imam jalaludin Assuyuti rohimahullah dalam al itqon juga memberikan penekanan yang hampir sama pada definisi tajwid, yaitu: "Memberikan huruf akan hak-haknya dan tertibnya, mengembalikan huruf kepada makhroj dan asal (sifat)nya serata menghaluskan pengucapan dengan cara yang sempurna tanpa berlebih-lebihan, serampangan, tergesa-gesa, dan di paksakan.


No comments:
Post a Comment