Bismillahhirrohmanirrohim...
Ilmu tajwid tidak bisa di pisahkan keberadaan dari Ilmu qiroat. Bahkan bisa dikatakan kelahiran ilmu tajwid itu sendiri di ilhami oleh ilmu qiroat yang memang muncul lebih dulu. Keberagaman cara membaca lafadz-lafadz al Qur'an yang di pelajari dalam ilmu qiroat telah menjadi dasar bagi munculnya kaidah-kaidah dalam ilmu tajwid.
Ilmu Qiroat adalah ilmu yang membahas bermacam-macam bacaan (qiroat) yang di terima nabi saw. dan menjelaskan sanad serta peneriamaannya dari nabi saw. Dalam ilmu ini, diungkapkan qiroat yang sahih dan yang tidak sahih seraya menisbatkan setiap wajah bacaanya kepada seorang Imam Qiroat.
Asal muasalnya terjadinya perbedaan ini adalah karena bahasa arab dahulunya mempunyai berbagai dialek bahasa (lahjah) yang berbeda antara satu kabilah dengan kabilah yanglainnya. Dan Al Qur'an yang di turunkan Allah swt. Kepada Rasulnya saw. menjadi semakin sempurna kemukjizatannya karena ia dapat manampung berbagai macam dialek tersebut sehingga tiap kabilah dapat membaca, menghafal, dan memahami wahyu Allah.
Qiroat yang bermacam-macam ini telah mantap pada masa Rasulullah saw. dan belaiu mengajarkannya kepada para sahabat r.a. sebagaimana belaiu menerimanya dari Jibril a.s. Kemudian pada masa sahabat muncul para ahli bacaan yang menjadi panutan masyarakat. Yang termashur diantaranya mereka antara lain Ubay bin Ka'b 'Ustman Bin Affan, Ali bin Abi tolib, Abdullah bin Mas'ud, Zaid bin tsabit, dan Abu Musa Al asy'ari. Mereka inilah menjai sumber bacaan bagi sebagaian besar dan tabi'in.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, perbedaan qiroat ini menghadapi masalah yang serius karen munculnya banyak versi bacaan yang semuanya menggaku bersumber dari Rasulullah saw. Untuk itu dilakukan penelitian dan penggujian oleh para pakar qiroat dengan menggunakan kaidah dari segi sanad, Rasm Usmani, dan tata bahasa arab.
Setelah melalui upaya yang keras serta penelitian dan penggujian yang mendalam terhadap berbagai qiroat al Qur'an yang banyak beredar tersebut, ternyata yang memnuhi syarat mutawati, menurut kesepakatan par ulama, ada tujuh qiroat. Tujuh qiroat ini masing-masing dibawa dan dipopulerkan oleh seorang imam qiroat, sehingga seluruhnya berjumlah tujuh orang imam qiroat. Sebagai penghargaan dan agar mudah diingat, nama-nama mereka selanjutnya diabadikan pada qirat masing-masing. Contohnya: qiroat Ashim, qiroat Nafi', qiroat Ibnu Katsir, dan seterusnya.
Tetapi patut di fahami, hal ini bukan berarti bahwa merekalah yang menciptakan qiroatnya sendiri. Qiroat yang mereka anut dan gunakan tetap bersumber dari Rasulullah saw. yang di peroleh secara talaqqi dari generasi-generasi sebelumnya.
Alhamdulillah....


No comments:
Post a Comment