Para sahabat dan tabi’in mengetahui cara memperbaharui semangat para murid, lalu mereka mempraktikkannya. mereka memanfaatkan cara itu agar tujuan kajian dapat benar-benar terealisir. Pada satu saat mereka mengkaji hadits yang beragam. pada saat lain mereka juga mempelajari keadaan para periwayat. Pada suatu ketika, mereka beralih pada kajian tentang biografi Rasul SAW., bahkan tidak ketinggalan mereka juga menyebutkan Asbab Wurud dan keterkaitan antar hadits.
Sehingga kajian sangat menarik, dan dapat mendorong para siswa mempelajarinya karena temanya yang beragam. Kajian hadits juga banyak mencakup berbagai persoalan yang berkaitan dengan persoalan agama dan keduaniaan. namun demikian, para guru kelompok kajian tetap menghawatirkn munculnya kejenuhan dalam hati para murid. Oleh karena itu, mereka juga memberikan selingan berupa mau’idoh, seperti yang pernah dilakukan Rasul dan para sahabat sesudah beliau wafat. syaiyidah ‘Aisah juga memesankan hal itu kepada para Tabi’in.
Beliau pernah berkata kepada Ubait bin Humair: “Hidarilah kegiatan yang membuat orang jenuh dan putus asa. oleh karena itu mereka tidak memperpanjang majelis, sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif. Dalam hal ini, Imam Az-Zuhriy mengatakan: “Bila suatu majelis berlangsung terlalu lama, maka setan memiliki kesempatan melancarkan aksinya di majelis itu.” Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas ra., bahwa beliau bila telah penuh orang-orang yang ada diseputar beliau untuk mempelajari hadits, sesudah al Qur’an dan tafsirnya, berkata: “Pelajarilah juga sya’ir dan yang lain.”
Sedang dari Abu Ad-Darda’ diriwayatkan, bahwa beliau berkata, sesungguhnya aku juga mengisi ruang hatiku dengan sedikit hiburan, agar aku bisa kuat menerima kebenaran. kadang-kadang para sahabat juga menyajikan beberapa sya’ir dan sejarah Arab Pra-Islam dalam majelis mereka, agar jiwa mereka kembali ceria. merak menganti tema untuk mempersiapkan semangat baru mereka. Dari abu Khalid al-Waliy diriwayatkan, bahwa beliau berkata: “kami berada dimajlis para sahabat. ternyata mereka juga mendeklamasikan sya’ir-sya’ir dan menyebut-nyebut sejarah mereka pada masa Pra-Islam.”
Az-Zuhriy pada suatu saat meriwayatkan hadits, kemudian berkata: “Datangkan Sya’i-sya’ir kalian, datangkan kisah-kisah kalian (pada masa pra-Islam). Karena telinga merupakan tempat penampungan, sedang hati memerlukan penyegaran. beliau juga berkata:”Istirahatkan hatimu beberapa saat.”
Pembelajaran variatif sudah diajarkan mulai dari dulu, demi menghalau kejenuhan mereka para guru-guru (yaitu para sahabat Rasul) membuat berbagai variasi pembelajaran, melalui dongeng, cerita-cerita, Sya’ir-sya’ir (mungkin saat ini bisa dengan solawatan, atau musik-musik islami) agar pembelajaran semakin menarik dan tidak menjemukan dan menjenuhkan para siswa dan lebih-lebih gurunya. semoga kutipan diatas memberikan manfaat kepada para pengembang metode pembelajaran sehingga membuat pelaku dunia pendidikan semakin yakin dan mampu memahamkan siswa (peserta didiknya).


No comments:
Post a Comment