Al Qur'an surat Al Hijr
ayat 9 disebutkan "Sesungguhnya kamilah yag menurunkan Adz-Dikr (Al
Qur'an) dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya. mengacu dari ayat
yang diatas bahwa realisasinya Allah dalam melakukan penjagaan Al Qur'an yaitu
melalui peran manusia itu sendiri dengan menggunakan berbagai matode yaitu
hafalan, tulisan dengan prinsip hafalan dan tulisan ini muncul berbagai macam
metode.
Al Qur'an diturunkan
kepada nabi yang Ummi (tidak bisa baca dan baca) karena itu Nabi dalam
penjagaannya al Qur'an menggunakan media hafalan dan menghayatinya agar beliau
menghafalnya dan mengguasainya, setalah itu nabi mengajarkannya dan
memantabkannya dalam pengguasaannya. Ada tiga faktor kenapa Al Qur'an tidak
dibukukan saat itu (Masa Nabi dengan sahabat), pertama: karena pada saat itu
nabi Muhammad masih ada sehingga kalau ada masalah-masalah keumatan Nabi bisa
menjelaskan langsung, kedua: para sahabat sangat sedikit sekali yang mengguasai
penulisan sehingga mereka kebanyakan hanya mampu menghafal dan hafalannya tidak
hanya dengan otak tapi dengan hati dan yang ketiga: adanya keingginan Rasul
untuk menulis Al Qur'an bagi sekretarisnya karena beliau tahu kemampuan umatnya
saat itu.
Sejak nabi melaksanakan
dakwah secara aktif dengan bil jahr, beliau mendirikan lembaga pendidikan dan
itu bertempat dimana-mana termasuk dirumah-rumah sahabat dan di masjid-masjid
di dalam masjid proses kegiatan belajar mengajar dilakuan dengan metode
"halaqoh" dengan masing-masing guru yaitu para sahabat-sahabat nabi
yang mampu mengajarkan kepada para sahabat yang belum mampu dan tahu ilmu yang
di berikan oleh Nabi Muhammad, setelah proses itu berlangsung maka banyak para
sahabat yang mulai pandai dalam membaca al Qur'an sehingga muncul para sahabat
yang menghafal dan mencatat Al Qur'an yang dilakukan oleh para sahabat yang
sudah pandai itu tadi.
Cara Allah dan nabi
memelihara al Qur'an dari kemusnahan yang itu melalui pembelajaran yaitu,
pertama: melalui penyimapanan dalam "Dada Manusia" atau menghafalnya
dan yang kedua: yaitu menulisnya diatas berbagai media, baik itu kulit, kayu,
pelepah kurma dan lain. Usman bin Affan meriwayatkan: yang terbaik diantara
kamu adalah orang yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya. dengan hadits ini
maka penjagaan wahyu Allah sudah jelas dengan menunjukkan umat islam agar
selalu semagat dalam belajar dan mengajarkan Al Qur'an kalau kita ingin menjadi
orang yang terbaik.
Cara Rasul dalam
memasukkan Al Qur'an kepada sahabatnya yaitu dengan cara membacakannya
diulang-ulang sampai para sahabat betul-betul menghafalkannya dan beliau juga
menyuruh para sekretarisnya untuk menuliskan ayat-ayat Al Qur'an yang baru
diterimanya selanjutnya disimpan dirumah Rasul dan sebagian mereka menulisnya
untuk dikonsumsi sendiri buat bacaan mereka sediri dirumah. Berbeda dengan
masanya sahabat, pada masa sahabat terjadi perang yamamah yaitu perang antara
orang-orang murtad yang diperangi oleh Khalifah Abu bakar dan saat itu banyak
para penghafal Al Qur’an yang guru di medan perang.
Dan saat itu Umar bin
Khattab melihat para sahabat yang hafal al Qur’an meninggal beliau mempunya
inisiatif memberi tahu kepada Abu Bakar untuk membukukan Al Qur’an, tapi
setelah ada usulan itu Abu Bakar menolaknya karena disaat Nabi masih hidup
beliau tidak pernah menyuruhnya dan mencontohkannya. Akhirnya setelah didesak
oleh Umar, Abu Bakar mengiyakan untuk membukukannya. Selanjutnya Abu Bakar
meminta Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan bagian-bagian Al Qur’an yang
berserakan, Zaid bin Tsabit adalah mantan sekretaris Nabi saat penerimaan wahyu
berlangsung, beliau dari madinah.
Rekonstruksi ulang dari
sumber:
Metode Pengajaran Al
Qur’an di Zaman Rasulullah SAW.
http://hakamabbas.blogspot.co.id/2014/02/metode-pengajaran-al-quran-di-zaman.html


No comments:
Post a Comment